| Jakarta, CNBC Indonesia- Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan September 2018 mencatat surplus, setelah defisit berturut turut sejak Juli lalu. Secara keseluruhan ekspor September 2018 mencapai US$ 14,83 miliar atau tumbuh 1,7% (year on year). Sementara impor mencapai US$ 14,60 miliar atau tumbuh 14,18% (year on year). Hal ini menyebabkan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 230 juta. Meski surplus, dari sektor migas masih mencatat defisit dengan total mencapai US$ 9,37 miliar atau setara Rp 142 triliun sejak Januari lalu. Jumlah ini naik signifikan dibanding capaian di periode serupa tahun lalu, yang hanya mencapai US$ 5,87 miliar.
"Secara kumulatif, migas defisit US$ 9,37 miliar dan non migas surplus US$ 5,5 miliar," ujar Deputi Statistik Distribusi dan Jasa Yunia Rusanti, saat pengumuman neraca dagang di BPS, Senin (15/10/2018). Secara keseluruhan, defisit impor migas Januari-September 2018 naik 59% dibanding periode serupa di 2017. Untuk Agustus, BPS mencatat impor migas mencapai US$ 2,28 miliar sementara ekspor US$ 1,21 miliar. Sehingga masih tercatat defisit US$ 1,07 miliar. (gus/gus) Let's block ads! (Why?) October 15, 2018 at 07:14PM via CNBC Indonesia https://ift.tt/2OnSh0R |
No comments:
Post a Comment